Ads

Slider[Style1]

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style2

Style4

Style5

Pesan Sang Hitler tentang Islam

- Pesan Sang Hitler tentang Islam -

Penyebab Perokok Kurang Nafsu Makan

Tahukah Anda, selain mengotori paru-parunya dengan zat-zat kimia yang berasal dari asap rokok, sebenarnya para perokok juga membuat tubuhnya kekurangan oksigen. Istilah medis untuk kekurangan oksigen ini adalah hipoksia. Dalam jangka panjang, hipoksia bisa merusak organ-organ tubuh.

"Udara yang kita hirup seharusnya adalah udara yang segar. Tetapi saat kita merokok, udara di sekitar jadi tidak seimbang karena lebih banyak karbonnya (CO). Akibatnya oksigen yang dihirup sedikit," kata DR. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD, dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/RSCM Jakarta.

Kondisi tersebut menurut Ari, banyak tidak disadari oleh perokok. Hipoksia juga dapat memengaruhi nafsu makan sehingga berat badan akan sulit bertambah.

"Saat kekurangan oksigen, tubuh melakukan adaptasi dengan menginduksi faktor molekuler penting, yakni Hypoxia Inducible Factor-1a (HIF-a). Molekul ini ikut berpengaruh pada gen lapar, yakni leptin. Sehingga nafsu makan berkurang," katanya saat ditemui seusai sidang disertasinya di FKUI, Jumat (15/7/2011).

Selain karena merokok, hipoksia juga bisa dialami orang yang berada di dataran tinggi atau menderita penyakit kronik. Sebuah penelitian lain yang dilakukan ilmuan dari Universitas Yale, AS, menemukan, nikotin mengaktifkan sel otak tertentu sehingga nafsu makan berkurang.

Penyebab Mudah Marah Karena Kurang Tidur

 Perempuan yang moody atau sedang mudah marah sering menerima komentar, "Ih, lagi PMS, ya?" Kini, penelitian baru menunjukkan, PMS alias pre-menstrual syndrom bukan satu-satunya penyebab orang mudah marah dan menyalahkan orang lain. Cari tahu penyebabnya, jangan-jangan ia kekurangan tidur semalam.
Ketika orang mengantuk, mereka cenderung akan berpikir mengapa suatu peristiwa terjadi di luar kehendaknya, dan menebak-nebak bagaimana situasi bisa menjadi lebih baik. Begitulah kesimpulan para peneliti dari University of Arkansas at Little Rock. Mereka juga akan menyalahkan orang lain, dan ingin membalas dendam, tergantung bagaimana situasinya memengaruhi diri mereka.

Rasa terganggu, moody, dan mengeluh adalah efek samping dari kurang tidur yang sudah diriset dengan baik. Namun, inilah studi pertama yang mengeksplorasi bagaimana sebenarnya orang berpikir ketika mereka mengantuk. Demikian menurut peneliti utama, David Mastin, yang juga profesor bidang psikologi di universitas tersebut.

"Kita harus menyadari bahwa kekurangan tidur itu membuat kita lemah," katanya. "Mengantuk menyebabkan orang mengalami kecelakaan, dan membuat penilaian yang buruk. Apakah Anda ingin penyelia Anda membuat penilaian tentang Anda ketika mereka sedang mengantuk?"
Mereka mungkin akan menyalahkan Anda mengapa penjualan bulan lalu menurun tajam. Karenanya, mereka akan berusaha membalas dendam, misalnya dengan tidak memberikan Anda kenaikan gaji.

Efek dari mengantuk juga bisa memengaruhi hubungan Anda dan pasangan, atau bagaimana kita memperlakukan orang-orang di kantor.

"Kurang tidur bisa memengaruhi koordinasi motorik kita, dan bisa sama berbahayanya dengan mengemudi dalam keadaan mabuk," ungkap Mastin.
Oleh karenanya, ia ingin memfokuskan penelitian pada pengemudi truk, pilot, dan dokter, yang sedang mengantuk. Bayangkan apa yang terjadi bila mereka mengantuk saat bekerja. Anda tak mau dokter salah mendiagnosis penyakit Anda hanya gara-gara ia kurang tidur, kan?

Kiat Warga Muslim Brazil Pertahankan Tradisi Ramadhan

Tiap Ramadhan, Zubaida Jomaa, selalu berupaya agar keluarganya dapat berbuka puasa bersama sedikitnya seminggu sekali. "Saya senang melihat seluruh keluarga duduk bersama selama bulan suci. Itu memberi saya perasaan bahwa Islam tetap hadir di dalam rumah," kata wanita asal Libanon ini kepada IslamOnline.net.

Ibu dua anak ini merasakan kenikmatan tersendiri saat mengundang kerabat dan tetangganya untuk buka puasa bersama. "Para kerabat biasa datang untuk buka bersama kami... Sehingga acara seperti ini menjadi momen spesial dalam hidup kami," ungkapnya.

Walau hidup di tengah masyarakat Barat yang mayoritas non-Muslim, kaum Muslimah berusaha keras mengajari anak-anak mereka makna puasa Ramadhan. "Meski hidup di negara Barat dan modern, keluarga Muslim di Brazil berusaha keras untuk menjaga tradisi dan agama mereka, khususnya selama Ramadhan," kata Presiden Organisasi Islam Brazil, Muhssen Jalil.

Berdasarkan data sensus tahun 2001, terdapat sekitar 27,339 orang Muslim di Brazil. Namun, Federasi Islam Brazil (IBF) menyebutkan angka sekitar 1,5 juta Muslim di negara yang terkenal dengan sepak bolanya itu. Mayoritas Muslim di Brazil berasal dari Suriah, Palestina, dan Libanon.

Mereka berimigrasi dan menetap di Brazil sejak abad ke-19, saat terjadi Perang Dunia I dan tahun 1970-an. Kebanyakan kaum Muslimin tinggal di negara bagian Parana, Goias, Riod de Janiero, dan Sao Paulo. Ada juga yang tinggal di Mato Grosso do Sul dan Rio Grande do Sul.

Atas